Dinsdag, 21 Mei 2013

TURKI UTSMANI ( KRITIK TERHADAP SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM )


PENDAHULUAN

Semenjak runtuhnya daulah bani abbasiyah di Baghdad dan kemudian bangsa Mongol dan Tartar mulai memperluas daerah kekuasaannya, hampir tidak ada lagi yang menjadi tumpuan harapan dunia islam untuk terus berjaya. Negeri-negeri islam yang tadinya sangat luas menjadi terpecah belah bahkan sampai sebagian ada yang berhail dikuasai oleh bangsa mongol dan tartar yang notabenenya ingin menghancurkan kerajaan – kerajaan islam di dunia.
Ditengah perpecahan Negeri-negeri islam dan tekanan dari bangsa mongol dan tartar, muncullah kerajaan Usman atau daulah bani usmaniyah. Dengan kemunculannya tersebut, negeri-negeri Islam yang terpecah belah mulai disatuan kembali dan tekanan dari bangsa mongol dan tartar mulai diusir sampai akhirnya Islam mampu mengulangi maa kejayaannya.
Lebih dari enam abad kerajaan turki usmani berhasil manguasai dan mempertahankan daerah kekuasaannya bahkan meluas sampai ke menara-menara menjulang langit di bekas kerajaan bizantium ( konstantinopel ). Akan tetapi pada pertengahan abad ke enam belas kerajaan turki usmani mulai mengalami kemunduran hingga akhirnya kerajaan turki berubah menjadi sebuah Republik. Hal inilah yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini.





PEMBAHASAN
  1. ASAL MULA KERAJAAN TURKI USMANI
Kerajaan Turki Usmani merupakan sebuah kerajaan berdiri sejak awal abad ke empat belas. Pada awalnya suku bangsa Usmani merupakan suku bangsa pengembara. Mereka termasuk dalam suku Kayi yang berasal dari asia tengah[1]. Pada tahun 1219-1220 suku kayi yang dipimpin oleh Sulaiman menghindar dari serbuan bangsa mongol. Suku tersebut lari ke arah barat dan meminta perlindungan dari Sultan Jalaluddin, pemimpin terakhir dinasti khawarizm di transoksania. Akan tetapi tentara mongol berhasil mengalahkan kerajaan tersebut. Lalu sultan jalaluddin memberi jalan agar sulaiman dan sukunya pergi ke barat ke arah asia kecil. Kemudian mereka menetap disana untuk beberapa saat hingga akhirnya tentara mongol mendekat dan sampai ke negeri itu. Merekapun pergi ke negeri Anatolia,. Dalam perjalanan tersebut,pemimpin mereka, sulaiman, mengalami kecelakaan ketika sedang menyebrangi sungai Eufrat.tiba-tiba sungai menjadi pasang dan pemimpin mereka tenggelam dan tidak dapat tertolong lagi.
Setelah sulaiman meninggal, suku tersebut terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama pergi ke tempat asalnya, dan yang kedua melanjutkan perjalanan ke Anatolia. sedangkan kelompok yang kedua yang dipimpin oleh Arthogrol anak dari sulaiman, mereka ingin menghambakan diri mereka kepada sultan Alauddin II dari dinasti Saljuk Rum yang pemerintahannya di Kuniya, Anatolia, Asia Kecil[2].
. ketika  Dinasti Saljuk berperang melawan kerajaan mongol, Arthogrol membantunya,sehingga dinasti Saljuk mengalami kemenangan. Mendengar hal tersebut, Sultan Alauddin II sangat senang dan memberikan wilayah yang dulu bernama Dorylaeum,yang berbatasan dengan Bizantium. Mereka menjadikan Sogud sebagai ibukota pemerintahan yang independent yang berdiri pada tahun 1258. Di sinilah lahir Usman pada tahun 1258, bertepatan dengan hancurnya Baghdad oleh Hulagu Khan.[3]
Pada tahun 1288 M,Arthogrol wafat dan sultan menunjuk Usman anak Arthogrol sebagai pengganti arthogrol. Dari nama Usman inilah, kemudian muncul nama Dinasti Usmani.
Pada tahun 1300, bangsa mongol menyerang kerajaan Saljuk dan Sultan Alauddin II terbunuh, dinasti Saljuk pun menjadi terpecah pecah. Kemudian Usman menyatakan dirinya sebagai raja yang pantas dan berkuasa atas daerah yang didudukinya.
Sejak saat itulah kerajaan Turki Usmani berdiri dan Usman ibn Arthogrol sebagai raja yang pertama.dinasti ini berkuasa kurang lebih selama enam abad.
  1. SISTEM PEMERINTAHAN TURKI USMANI
Kerajaan Turki Usmani merupakan kerajaan yang menganut system pemerintahan Monarchi atau turun temurun. Raja-raja dinasti Usmani bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi dan Khalifah di bidang Keagamaan.[4] Dalam memperoleh kekuaaan, tidak selalu diwariskan kepada anak tertua, tetapi juga kepada anak yang lain yang berhak, jika tidak ada maka saudara sang raja yang menggantikannya.
Seorang sultan juga dibantu oleh seorang Mufti dalam menjalankan pemerintahan, atau yang lebih dikenal dengan Syaikhul-Islam dan Syaikhul-A’dham. Syaikhul-Islam mewakili dibidang Agama, sedang Syaikhul-a’dham di bidang duniawi.
Dalam memperluas dan mempertahankan wilayah kekuasaan, kerajaan turki Usmani membentuk pasukan Jenissari.
Otoritas patrimonial raja-raja Usmani sangatlah menonjol. Raja menganggap bahwa Negara merupakan rumah tangganya, rakyat merupakan pembantu pribadinya. Tentara merupakan budaknya yang secara pribadi harus setia kepadanya. Teritorial imperium merupakan property pribadinya, bahkan sebagian diberikan kepada kelompok penguasa dalam bentuk iqtha’. Pengalihan hak atas pendapatan Negara dalam bentuk apapun tidak dipandang sebagai penyimpangan atas kepemilikan yang absolut sang sultan. Hal ini menjadikan masyarakat islam tidak menyukai system monarchi.
  1. SEBAB-SEBAB KRITIK TERHADAP SISTEM PEMERINTAHAN TURKI UTSMANI
Telah disebutkan bahwa kemajuan kerajaan turki Usmani terjadi pada masa Sultan Sulaiman Al-Qonuni (1520-1566)[5]. Setelah masa ini kerajaan usmani mengalami kemunduran. Penyebab kemunduran ini terjadi karena lemahnya system birokrasi dan kekuatan sultan, serta ketertinggalan islam dengan bangsa eropa terutama perancis dalam hal IPTEK dan kemiliteran.
Pada abad ke-17 turki utsmani mulai memperdebatkan cara terbaik dalam menangani kemunduran tersebut. Para modernis menganggap perlunya mengadopsi metode yang dimiliki bangsa eropa dalam pendidikan kemiliteran, organisasi, dan administrasi.[6]
Kemudian dipilihlah pemuda-pemuda berbakat (kaum intelektual) dan mengirim mereka untuk belajar di perancis. Untuk mempercepat pembaruan, pada awal abad ke-18, para ahli militer eropa didatangkan. Pada saat kaum intelektual yang telah belajar di eropa kembali dan mencoba menawarkan system pemerintahan baru yang menggunakan metode bangsa. Akan tetapi hal ini ditolak oleh pemerintah turki. Hal ini juga terjadi pada sultan salim III (1789-1807). Beliau mencoba memperkenalkan program pembaruan pertama yang dikenal dengan nizam i-jedid, tetapi tidak mendapat dukungan dari para ulama dan kelompok militer janissari. Ia akhirnya digulingkan pada tahun 1807, tetapi program tetap berlanjut oleh penggantinya.
Program pembaharuan ini terbagi dalam beberapa fase, yaitu:
1.      Mahmud II (1808-1839)
2.      Tanzimat ( Abdul Majid 1839-1861)
3.      Utsmani muda ( Abdul Aziz 1861-1876 )
4.      Turki Muda ( Abdul Hamid 1876-1909)
Usaha pembaharuan turki baru mengalami kemajuan setelah penghalang utamanya yaitu janissari, dibubarkan oleh sultan mahmud II pada tahun 1826 M. struktur kekuasaannya dirombak, lembaga-lembaga modern didirikan, serta sekolah-sekolah kemiliteran didirikan.[7]
Pada masa pemerintahan sultan Abdul Aziz, kekuasaan dirasa semakin otoriter dan akhirnya membawa krisis yang berkepanjangan bagi kerajaan turki, hal ini menimbulkan adanya tiga kelompok yang mengkritiki system pemerintahan kerajaan turki utsmani. Yang pertama, kelompok oposisi dari kaum tradisionalis, kedua adalah kelompok yangmengkritisi secara lebih baik dari kelompok pertama, dan yang ketiga menginginkan penghapusan sultan sebagai kekuatan politik.
  1. DAMPAK KRITIK TERHADAP SISTEM PEMERINTAHAN TURKI UTSMANI
Gerakan pembaharuan justru mengancam kekuasaan sultan yang absolute, karena para modernis turki melihat bahwa kelemahan turki terletak pada absolutisme sultan itu. Kritik yang dilancarkan para pembaharu membuat bibit-bibit nasionalisme tumbuh. Mereka hendak membuat pemerintahan konstitusional meskipun gagal,mereka telah berhasil melemahkan kekuatan pemerintah pusat di istambul.
Gerakan turki muda berhasil menelorkan ideology nasionalisme yang dikenal dengan turanisme. Dampak nyata dari ideology ini adalah runtuhnya system khalifah utsmani yang dibangun atas pemikiran politik keagamaan yang bersifat supra natural.
E.   AKHIR DARI TURKI UTSMANI
Tokoh utama gerakan nasionalisme adalah Mustafa kemal attaturk. Dia dilahirkan di salonika tahun 1881 M dari keluarga modern. Dia adalah seorang modernis yang banyak menganut pemikiran namik kemal. Mustafa berusaha keras mewujudkan cita-citanya yaitu mewujudkan Negara turki yang modern.
Padan bulan permulaan bulan juli 1920, dia membentuk National Assembly, dewan nasional di Angkara. Kemudian dia terpilih menjadi perwakilan rakyat mengikuti perundingan. Dia mencetuskan beberapa langkah untuk mewujudkan turki modern.
Langkah pertama yang di lakukan adalah menghapuskan kesultanan, sementara kekhalifahan masih dijaga sebagai symbol persatuan, tetapi tidak memiliki kekuatan politik. Dengan kemampuannya kemal berhasil meyakinkan Majelis agung Nasional. Keputusan majelis mendapatkan tanggapan yang positif dari masyarakat.
Langkah yang kedua yaitu memproklamasikan  Turki menjadi Republik,kemudian diadakan sebuah sidang majelis dan menghasilkan keputusan bahwa bentuk pemerintahan turki yang baru adalah Republik, presiden Turki adalah kepala Negara , dan Mustafa kemal terpilih sebagai presiden yang pertama. Agama Negara turki adalah Islam. kemerdekaan Turki sebagai Negara Republik diproklamasikan tanggal 29 Oktober 1923.dengan demikian kekhalifahan telah dipisahkan dari pemerintahan Turki.
Kekhalifahan di hapuskan tanggal 3 maret 1924 M, setelah kemal menyampaikan pidato pada pembukaan majelis dua hari sebelumnya.pidato tersebut menekankan pada usaha penjagaan Stabilitas Republik,diciptakan system pendidikan nasional yang seragam dan keharusan untuk membersihkan dan meningkatkan iman Islam,dengan membebaskannya sebagai alat politik.















KESIMPULAN
Berdasarkan materi yang telah disampaikan dapat diambil kesimpulan bahwa:
·   Kerajaan Turki Usmani berdiri pada awal abad ke -14,setelah runtuhnya bani Abbasiyah, tepatnya pada tahun 1300 M. pendirinya adalah Utsman Ibn Arthogroldanterletak di anatholia, Asia Kecil.
·   System pemerintahan Turki Utsmani adalah Monarki, dan rajanya bergelar Sultan dan Khalifah sekaligus
·   Absolutisme dari sultan menyebabkan terjadinya kritik dari berbagai pihak, serta berdampak pada tumbuhnya semangat nasionalis untuk mewujudkan turki modern.
·   Kerajan Turki berubah menjadi republic pada tanggal 29 Oktober 1923,dan yang menjadi presiden pertamanya adalah Mustafa kemal.











DAFTAR PUSTAKA
Mughni, Syafiq A. sejarah kebudayaan Islam di Turki. Jakarta: logos, 1997.
Maryam, Siti ,dkk. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta:LESFI,2004
Hamka. Sejarah Umat Islam Jilid III, Jakarta: N.V. Bulan Bintang, 1981


[1] Syafiq A. Mughni, Sejarah kebudayaan Islam di Turki,(Jakarta: Logos, 1997), hlm 51.
[2] Siti Maryam, Sejarah Peradaban Islam,(Yogyakarta: LESFI, 2004) hlm 128
[3] Siti Maryam, Sejarah peradaban Islam, hlm 128
[4] Siti Maryam, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: LESFI, 2004), hlm 132
[5] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, hlm 155
[6] Syafiq A. Mughni,sejarah kebudayaan islam di turki, halm 121
[7] Badri Yatim, Sejarah peradaban Islam, halm 179

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking